Hari Pertama : Sehari sebelum Perjalanan Menuju Garut

Senin pagi, 13 September 2010, H+3 Lebaran 1431 H. Karena keluarga Dokter Didin akan berangkat wisata tahunan ke Pangandaran, Si macan harus segera kukeluarkan dari garasi, agar tidak menghalangi Innova yang akan menjadi kendaraan Dokter Didin hari itu. Setelah Innova keluar dari garasi, Si Macan nongkrong di depan Madrasah/TK/TPA milik Yayasan keluarga besar kami.

Sekitar Pukul 8 pagi aku makan bersama-sama Ayah dan adik-adikku bersama sepupu-sepupu di Rumah Ustadz Idih, pamanku. Setelah kenyang makan nasi kuning dengan lauk daging ayam, pete, dan ikan asin, aku bersama Yuda, suami sepupuku yang juga teman main basket waktu SMA dulu berangkat ke Kota Kecamatan Pangalengan yang berjarak 3 kilometer dari Desa Sukamenak tempatku menginap.

Aku dan Yuda mengendarai si Macan dan sesampainya di Pangalengan kami singah di Toko Obat As Syifa milik pamannya Andri, teman kami di SMA. di bagian dalam toko ini terdapat counter ponsel milik Ugiech, teman SMA kami juga. Kemudian kami ngobrol ngalor-ngidul melepas kangen dan bernostalgia sambil menunggu kabar dari teman-teman lain yang juga sedang pulang kampung.

Sekitar pkl 09.30 aku menghubungi Dani, temanku yang alumni Unpad dan kini tengah menggeluti usaha Hortikultura bersama ayahnya. Ternyata dani sedang berada di rumah Cepot (Cecep Hermawan) di Desa Loskulalet yang berjarak 7 kilometer dari Pangalengan. Di sana juga hadir Awit dan Mastur. Dani berpesan padaku agar membelikannya sebungkus Djarum Super.

Karena Donni tak muncul jua ke Counter milik Ugiech, akhirnya aku dan Yuda memutuskan untuk menyusul saja ke rumahnya di Norogtog, yang hanya berjarak 3 kilometer saja dari pusat Kota Pangalengan. Akhirnya kami menuju ke rumahnya dan di sana ternyata telah hadir Kusyaman dan istrinya, Mpep. Mereka sangat mesra berpelukan, mungkin karena pengaruh udara yang dingin sehingga mereka tanpa sungkan berpelukan di depan kami, membuat kami jadi iri dan pengen dipeluk juga. Sementara sang tuan rumah yaitu Donni tak nampak di situ, rupanya dia sedang mandi. jadi kami hanya bertemu ibu Donni. Setelah salam-salaman dan duduk santai dan mengobrol, 15 menit kemudian Donni muncul dengan hanya mengenakan celana pendek dan handuk sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah.

Setelah berpakaian Donni segera menyajikan kopi untuk kita, akhirnya pagi yang dingin namun cerah ini lengkap nikmatnya dengan secangkir kopi panas dan kepulan asap berbatang-batang rokok, sambil bercengkerama di rumah Doni yang terbuat dari kayu ini. Setelah habis sebatang Sampoerna Mild, muncul Andri yang mengenakan celana komprang dan kaso hitam. Badannya sekarang gemuk subur namun kulitnya tetap hitam dan jenggot tipis di dagunya masih nemplok aja.

Kini di ruangan ini makin ramai dengan obrolan-obrolan dan celutukan-celutukan kami yang kadang “provokatif” yang berkaitan dengan politik dan hal-hal yang “menjurus”, agak dewasa,…

Mendekati tengah hari kami memutuskan untuk melanjutkan ngobrol-ngobrol di rumah Kusyaman sekalian halal bihalal dengan keluarga Kusyaman dan Pak dedi, kakak Kusyaman yang juga dulu mengajar kami di SMP.

Rumah Kusyaman tidak jauh dari rumah Donni, kira-kira hanya 400 meter saja, namun harus menanjak. Sesampainya di rumah Kusyaman kami langsung bersilaturahmi dengan keluarga Kusyaman karena rupanya sedang berkumpul semua di rumah.

Suasana di rumah Kusyaman sangan nyaman, udara sejuk pegunungan menyerbu masuk ke ruangan. Sinar matahari siang yang terang dan hangat menerangi dan menghangatkan isi ruangan sehingga seolah tidak menyembunyikan setitik gelap pun di dalam ruangan tamu itu. Bertoples-toples kue-kue lebaran tersaji di atas meja, yang langsung ditemani gelas-gelas berisi teh hangat buatan Ibu dan istri Kusyaman. Sehingga obrolan kami dapat berlanjut dengan makin seru karena nikmatnya cemilan lebaran ini. Namun di tengah acara ngobrol Andri mendapat telepon dari istrinya yang menunggu di rumah, rupanya istrinya minta Andri ngambil jemuran. Sehingga Andri harus segera pamit saat itu.

Setelah jam menunjukkan pukul 12 lewat 30 menit, aku pamit kepada Kusyaman, Pak Dedi, dan keluarga Kus yg lain. Karena aku ingat bahwa Dani menunggu-nunggu Djarum Supernya.

Segera kupacu motor Tigerku melintas jalanan berkelok-kelok dan membukit sepanjang 7 kilometer. Sebelum mencapai rumah Cepot, aku mencari-cari warung kelontong untuk membeli rokok pesanan Dani, yang akhirnya kutemukan sekitar 400 meter sebelum rumah Cepot (Cecep Hermawan). Sesampainya di depan gerbang kubunyikan klakson, kemudian Cepot keluar dari rumahnya dan membuka gerbang rolling door.

“Woii,…. ka mana wae euy,….?” sapa cepot,

“Gawe euy,…. Minal aidzin nya….”

Rumah Cepot megah namun nampak dipenuhi debu di pagar dan halaman depannya. Setelah si macan parkir dengan santai di depan garasi yang saat itu ada sebuah motor Honda GL-Pro hitam bersetang lebar, aku beranjak ke teras depan, yang disambut Dani,

“Siahh,… ka mana wae atuh,….?”

“Sibuk lah gawe urang mah,”balasku,”Minal Aidzin nya,…”

kemudian aku masuk ke ruangan yang adem yang di atas meja dipenuhi toples-toples kue, laptop, cangkir-cangkir kopi dan gelas-gelas jus. Akhirnya kami berhalal bihalal, ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati jus lychee dan kue-kue lebaran, mengisap Djarum dan Mild serta menertawakan kejadian-kejadian lucu di sebuah website,..

Dua jam berlalu dengan cepat, saat jam menunjukkan pukul 15.00, cepot memberitahu kami bahwa ia dan keluarganya akan berangkat halal bihalal ke Yogya, sehigga kami (Aku, Dani dan Awit) harus bersiap-siap meninggalkan rumahnya. Setelah pamitan ke Orang tua cepot, kami menyiapkan motor kami, namun kemudian hujan turun. Udara pedesaan yang sejuk dingin menjadi bertambah dingin karena turunnya hujan. Akhirnya aku dan dani menunggu hujan berhenti namun Awit tetap pulang karena harus mengurusi bisnisnya. Aku dan Dani pun duduk-duduk di teras depan ruang tamu sambil mengisap rokok, dan Cepot pun kembali menamani kami.

karena setelah 1 jam hujan tak berhenti jua, akhirnya aku dan Dani memutuskan untuk nerobos hujan saja. Aku ga masalah karena membawa jas hujan, namun Dani hanya membawa jaket saja. Dani mengajak untuk silaturahmi/halal bihalal saja ke rumah Yayan di Desa Baru Ibun, yang rumahnya hanya berjarak 4 kilometer dari rumah Cepot. Sebelum berangkat kami sempat disibukkan dengan sulitnya menyalakan mesin motor GL-Pro milik Dani. Dan menghabiskan waktu seperempat jam untuk menyalakannya. setelah itu kami melaju melalui jalanan desa yang beraspal ala kadarnya, karena masih banyak tanah-tanah dan bebatuan di jalanan.

Untuk menuju rumah Yayan harus melalui satu jalan berbatu, melintasi jalan “besar” dan sebuah jalan desa beraspal tepi kebuh teh Malabar kemudian masuk gang yang tak beraspal, tak berbeton, tak berbata, namun hanya jalanan tanah yang kadang-kadang terdapat batu-batu runcing dan genangan lumpur. Pada awalnya di kanan-kiri gang adalah rumah penduduk, namun seterusnya adalah kebun tomat, kentang, dan jagung,…

Leave a comment

Filed under ITB,.... Kampusku Rumahku, Libur Lebaran, My Tiger, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s