Mawar Putih yang (hampir) layu…

Cerita ini berawal sebulan yang lalu, tepatnya hari senin tangal 15 november 2010 siang hari. Dan tahap pertama berakhir happy ending pada 15 desember 2010.

sinopsis…..

Ini cerita tentang kehidupan anak manusia, yang termarjinalkan oleh keadaan, keterpurukan, yaitu masalah klasik, ekonomi.

Bagaimana sekuntum mawar putih yang wangi ternyata tumbuh di tengah semak belukar yang bau dan dihinggapi banyak tikus-tikus busuk yang kelaparan.

Sering kita dengarkan di berbagai berita-berita di surat kabar dan acara di televisi, bagaimana keadaan ekonomi yang pas-pasan bahkan boleh dikatakan di bawah garis kemiskinan telah menjungkirkan mental dan pikiran manusia bahkan menjebak banyak manusia untuk berbuat yang tidak wajar dan kehilangan harga diri.

Bagaimana keadaan ekonomi membuat seorang anak manusia rela melakukan berbagai tindak kriminal, yang tadinya hanya sekadar untuk menyambung hidup (makan, mengenyangkan perut) menjadi keserakahan dan ketamakan yang membuat dirinya menjadi lebih rendah martabatnya daripada binatang sekalipun. Sungguh memprihatinkan…

Bagaimana keadaan ekonomi membuat seorang anak gadis kehilangan harga dirinya sebagai wanita dan sebagai manusia, sehingga dirinya menjadi komoditas yang bagaikan objek yang dapat diperjual belikan dan diperlakukan semena-mena oleh manusia lainnya (laki-laki)…

Keadaan ekonomi yang pas-pasan bahkan tiada sama sekali menyebabkan kehilangan hak untuk sekolah, kehilangan hak untuk cerdas, sehingga dirinya tetap berada dalam kebodohan. Dan celakanya jika dirinya berada di tempat yang tidak mendukung pendidikan dan banyak semak belukar dan tikus-tikus busuk, maka akan makin hancurlah dirinya….

…………………………………

Mungkin ini semua berawal dari kisah seorang lelaki, yang mungkin sudah cukup berumur, yang mencari nafkah di suatu tempat yang berada di daerah dekat Jakarta,

Kota-kota di sekitar Jakarta merupakan kota pendukung Jakarta, yang menyediakan semua kebutuhan Kota Jakarta yang banyak dan beragam. Salah satunya kebutuhan bahan-bahan bangunan untuk mendukung pembangunan gedung-gedung komersial dan pemerintahan serta fasilitas umum di ibu kota.

Bahan bangunan yang utama selain bata yaitu pasir. Material ini banyak ditemukan di daerah Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Banyaknya daerah-daerah penambangan ini tentu membutuhkan banyak pekerja-pekerja (terutama pekerja kasar) yang bertugas melakukan penggalian dan pengerukan. Biaya mempekerjakan pekerja-pekerja kasar ini lebih murah dibandingkan jika mengunakan peralatan mesin yang tentunya membutuhkan banyak bahan bakar minyak

Kehidupan para pekerja ini lebih banyak yang memprihatinkan. Disamping kondisi kesehatan yang terancam karena berada di lingkungan yang berpolusi, juga karena pekerjaannya memang mebutuhkan kerja otot ekstra. jangan bicara asupan gizi yang memadai, makan secukupnya pun tak terpenuhi…

Kerugian-kerugian bukan hanya dialami pekerja-pekerja tersebut, namun juga kerugian alam dengan rusaknya ekosistem dan daya dukung lahan di daerah tersebut,

berikut kutipan dari batavia.co.id :

Penambangan sirtu di Rumpin rusak lingkungan. Lingkungan alam di kawasan ini semakin rusalc parah akibat maraknya penambangan galian pasir dan batu (sirtu). PAO RP158 MILIAR “Setiap tahunnya pemkab meraup PAD dari sektor ini Rpl58 miliar, 33 persen di antaranya dari kawasan ini. Gertakan Bupati ini membuat Bibin memasang portal besi di Desa Sukamulya di Kampung Cikolenag RT 04/ 04, (dari arah Tangerang), dan Kampung Leuwiranji RT 01/02, (arah Gunungsindur). “Pembangunan portal di dua kampung yang jalanan paling rusak ini, tujuan membatasi lalulintas truk ronton yang dianggap mempercepat kerusakan jalan,” kata Bibin.

“Penambangan sirtu di Rumpin sudah puluhan tahun dieskpoloitasi tanpa dibarengi reklamasi, akibatnya kawasan ini rusak. Jutaan ton materialnya untuk memasok kebutuhan pembangunan di Ibu Kota Jakarta,” kata Camat Rumpin Wahyu Hadi Setiono.

Penambangan sirtu ini menjadi tulang punggung perekonomian warga setempat. Selama puluhan tahun perusahan besar, kecil hingga perusahan bodong saban hari menggeruk lalu men-jual mater.nl bangunan itu ke Jakarta dan sekitarnya. “Saat ini tercatat 23 perusahaan galian sirtu beroperasi di Rumpin, belasan lainnya bodong,” tambah Camat Rumpin.

Meski demikian, warga setempat hanya sebagai buruh tambang. Tambang penduduk asli hanya satu berbanding belasan tambang milik perusahaan. Setiap hari, ra-tusan truk bermuatan belasan ton sirtu berlalu lalang mengakibatkan Jl. Raya Parung Panjang-Rumpin rusak. Pemkab Bogor dituding tutup mata dengan kondisi tersebut.

Yang diuntungkan dari kegiatan penambangan ini hanyalah perusahaan-perusahaan penambangan. Yang dirugikan jelas lingkungan (alam). Pekerja-pekerja hanyalah mendapatkan beberapa rupiah saja untuk menyambung hidup sementara.

Kondisi ekonomi para pekerja yang sudah rendah diperparah dengan status perusahaan tempatnya menambang yang ilegal sehingga jika dilakukan penertiban oleh PEMDA setempat dan Departemen Lingkungan Hidup maka mereka akan kehilangan pendapatan sehingga yang juga merasakan dampaknya adalah anak istri para pekerja tersebut.

Permasalahan ini menjadi berantai. kemunculan pekerja-pekerja yang kemudianmenganggur ini menyebabkan terlantarnya keluarga mereka. Bukan lagi anak-anaknya tidak dapat menikmati bangku sekolah, namun juga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Sunguh memprihatinkan memang, sudah jatuh tertimpa tangga…

Tidak memiliki mata pencaharian, anak istri terlantar, dan terjebak dalam kebodohan. Menyebabkan makin terperosok ke dalam jurang kenistaan…


 


Leave a comment

Filed under Pendidikan Sosial Sejarah Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s